Dreaming Tiger

Ask me anything   About   

Willing to join anyone on a rocket to the alligator sky | @alkadrii

twitter.com/alkadrii:

    natgeofound:

A quiet mosque in Palestine, 1926.Photograph by Jules Gervais Courtellemont, National Geographic Creative

Before Hamas, Israel, and anything else.

    natgeofound:

    A quiet mosque in Palestine, 1926.Photograph by Jules Gervais Courtellemont, National Geographic Creative

    Before Hamas, Israel, and anything else.

    — 3 months ago with 9532 notes
    #palestine  #mosque 
    "Laughter is timeless" - Walt Disney

    "Laughter is timeless" - Walt Disney

    — 3 months ago with 2 notes
    #quote  #walt disney  #laughter  #love  #dream  #age  #forever  #timeless 
    "Baby, you’ve got to be kind."

    "Baby, you’ve got to be kind."

    — 3 months ago with 2 notes
    #quote  #kurt vonnegut  #art 
    Friends

    Seharian kemarin, banyak yang memberitahu saya kalau banyak teman dari ‘kubu sebelah’, orang-orang yang mendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 1, lebih tepatnya, sedang panas. Banyak yang memberitahu saya kalau mereka sedang berapi-api di TL, memberitahu siapapun yang mau mendengarkan bahwa hasil QC yang memenangkan selain pasangan yang mereka dukung tidak valid. Maka, merasa penasaran dan ingin memeriksa dengan mata kepala saya sendiri, saya membuka TL twitter saya dan mengeceknya.

    Nihil. Tidak ada postingan-postingan panas seperti itu. Yang ada hanyalah postingan beberapa orang yang masih memberikan dukungan pada pasangan nomor urut 2, beberapa lagi yang memposting foto-foto selfie, beberapa memberikan link menuju donasi untuk Palestina. Tidak ada yang berisi ‘panas’ seperti yang dikatakan oleh banyak orang.

    Namun, saat itu, barulah saya menyadari satu hal: postingan-postingan tersebut ada, hanya saja tidak di TL saya. Teman-teman saya yang mendukung pasangan nomor urut 1, sebagian besar dari mereka, sudah saya unfollow sejak berminggu-minggu sebelumnya sehingga postingan mereka tidak muncul di TL saya lagi.

    Mungkin unfollow seseorang di twitter atau semacamnya terdengar sepele, tapi ini tidak sesepele itu. Saya sudah lama tidak ke kampus, apalah dengan banyaknya kerjaan dan bulan-bulan pertama mulai bekerja seperti sekarang ini, dan berbagai kesibukan lainnya yang mungkin sepele, dan saya sudah lama tak bertemu dengan mereka. Singkat kata, dengan unfollow di social media, saya merasa ‘putus’ dengan mereka.

    Dan itu membuat saya sedih.

    ____________________________

    Di hari-hari dan tahun-tahun yang lalu, saya bukan tipe yang terlalu peduli pada politik. Saya mengkritik dan menulis mengenai parpol-parpol, presiden dan pemimpin koalisi, mempertanyakan kebijakan-kebijakan mereka, tanpa memedulikan di sisi mana mereka berada. Saya pikir, jika A salah, maka katakan salah. Jika B benar, maka B benar. Saya tak peduli jikalau si A adalah partai muslim atau B partai kristen, atau sebaliknya, atau tidak dua-duanya. Saya menilai hasil kerja mereka.

    Itulah, mungkin, yang membuat saya tertarik untuk menjadi bagian dari beberapa organisasi mahasiswa di kampus. Saya ingin belajar lebih banyak. Saya ingin tahu lebih banyak mengenai kinerja pemerintahan saya. Dan saya berpikir organisasi-organisasi tersebut dapat memberikan hal-hal itu, ditambah dengan pengalaman dan ilmu-ilmu baru, kepada saya.

    Di sana juga, saya bertemu dengan orang-orang hebat. Orang-orang yang, baik mereka kakak kelas maupun adik kelas, sangat saya hormati. Mungkin saya pernah slek sama mereka, marah-marah atau bersitegang, tapi sampai akhir masa kepengurusan dan bahkan sampai beberapa bulan lalu, saya masih sangat menghormati mereka. Saya berpendapat mereka adalah orang-orang yang luar biasa, mengajari saya banyak hal, dan memberi saya banyak ilmu.

    Oleh karena itu, saya mendapati diri saya sangat terkejut melihat postingan-postingan mereka di berbagai social media saat kampanye pilpres kemarin dimulai. Banyak dari mereka yang melancarkan postingan-postingan berbau SARA dan black campaign, dengan informasi-informasi yang jelas tidak benar, di social media.

    Saya, sebagai seseorang yang merasa kenal dengan mereka, mencoba memberi komentar. Memberi balasan. Menjawab, mencoba meluruskan. Namun, satu per satu mereka menjawab dengan nada yang… kurang menyenangkan.

    Entah bagaimana lagi saya bisa menggambarkannya.

    Seorang kakak kelas dari organisasi yang pernah saya ikuti di kampus, seorang kakak kelas yang saya hormati, menyebut saya ‘kafir’ karena berbeda pilihan pasangan capres.

    Seorang lagi menyebut saya menentang Allah.

    Dan masih banyak lagi yang lebih parah.

    Dan saya masih ingat bagaimana perasaan saya waktu itu kepada mereka, membaca komentar-komentar mereka tersebut. Inikah orang-orang yang saya pikir saya hormati? Orang-orang yang telah mengajari saya banyak hal sepanjang periode saya berada di organisasi mereka di kampus dulu? Like, seriously?

    Saya merasa sangat marah. Sangat dikhianati. Dan jijik.

    Emosi saya terpancing, dan saya mulai membalas dengan postingan-postingan panas yang menyerang pasangan yang mereka dukung. Saya unfollow dan block mereka. Saya tak mau melihat postingan mereka lagi.

    Kini, setelah pemungutan suara berakhir, saya mulai sadar bahwa kita semua sebenarnya, mungkin, digelapkan matanya. Di sisi manapun kemarin kita berada, mungkin kita dibutakan oleh emosi dan nafsu.

    Kita terlalu berpihak pada calon yang kita dukung. Kita menjadi ekstremis, fanatis.

    Termasuk saya.

    Dan saya sangat benci dan takut pada ekstremis dan fanatik.

    ____________________________

    Kini, setelah pemungutan suara berakhir dan berbagai hasil QC yang kredibel menunjukkan bahwa pasangan yang kemarin-kemarin saya dukung mendapatkan posisi teratas, saya bisa berpikir lebih tenang dan menimbang-nimbang kembali semua kata-kata dan pengalaman yang saya lalui kemarin.

    Mungkin keadaan akan berbeda seandainya saja hasil QC kredibel kemarinĀ  menunjukkan bahwa pasangan nomor 1 yang menang. Mungkin saya yang masih marah-marah dan mulai memposting hal-hal berbau ‘revolusi’ atau ‘konspirasi’ di social media saya. Dan mungkin mereka, ‘kubu lain’ itu, justru menjadi yang mulai menenang dan berpikir kembali. Mulai sadar.

    Mungkin. Entahlah. Mungkin memang ada yang sedang tertawa-tawa melihat kita terpecah-belah begini. Mungkin ini semua memang salah kita.

    Mungkin…

    Bagaimanapun, mungkin memang sudah sebaiknya saya mencoba membuka kembali silaturahmi, satu per satu, dengan teman-teman saya yang berada di kubu sana. Teman-teman yang semasa kampanye kemarin menyebut saya kafir… mungkin saya harus mulai menyapa mereka lagi.

    Mungkin yang diperlukan saat ini, sebenarnya, adalah salah satu kubu untuk menjadi lebih legowo. Mempertahankan persatuan. Tapi tetap dengan menegakkan kebenaran. Dan agar kita bisa berangkulan bersama-sama lagi.

    Ngobrol bersama lagi, nongkrong bareng lagi, rapat sampai malem, makan bareng, tidur bareng *lhoh* jalan dan aksi demo bareng, dan masih banyak lagi.

    Mungkin… :)
    So, here’s hoping for a great, fresh start!
    — 3 months ago
    #jurnal  #pilpres  #teman