Di tengah-tengah dunia yang orang-orangnya saling berkumpul berdasarkan kesamaan mereka masing-masing, dan kumpulan-kumpulan tersebut saling menuduh dan memojokkan kumpulan lain yang tidak sama dengannya, keberadaan orang-orang yang bukan menuduh melainkan mengerti, mencoba memahami alih-alih menghakimi, pastilah akan sangat menyejukkan. Sayangnya, sulit mencari orang-orang seperti itu saat ini.
I should’ve been studying by now.
JobĀ AET untuk pertama kalinya hari Sabtu (18/05) kemarin. Menjadi tour guide bagi anak-anak ternyata tidak mudah, dan merupakan pengalaman luar biasa.
Bekerja, atau kenapa pengalaman akan membuat kita lebih "humble"
Sudah lama tidak menulis di blog ini… silakan.. :)
EYD di dalam Rapat
Satu hal yang benar-benar kusadari setelah tiga tahun berturut-turut menjadi anggota organisasi mahasiswa di kampus adalah betapa pengetahuan akan EYD itu sangatlah diperlukan.
Sebagai contoh, malam ini dalam sebuah rapat, aku bersama teman-teman seanggota organisasi mencoba menuliskan kalimat-kalimat yang paling tepat untuk sebuah draft ketetapan. Draft ini nantinya akan dibawa untuk dibahas dalam Sidang Istimewa (keren ‘kan? :D ) guna menegaskan sikap kami, para mahasiswa, terhadap sebuah peraturan baru yang akan diterapkan oleh pihak institusi kepada seluruh organisasi mahasiswa intra-kampus di IPB.
“Jadi, kami sudah membuat usulan awal poin-poin yang akan kita tetapkan,” kata pimpinan rapat. “Poin-poin tersebut adalah sebagai berikut…”
Kemudian kami mendengarkan sampai poin tersebut selesai dibacakan. Setelah itu, pimpinan rapat bertanya, “Ada yang mau memberikan pendapat?”
Saya mengangkat tangan.
“Sepertinya kalimat tersebut tidak efektif karena blablabla. Kemudian kata ‘yang’ tersebut tidak efektif karena blablabla…”
Dan seterusnya.
Bukan mau menyombongkan diri, tapi memang aku memiliki penguasaan EYD yang cukup baik. Dan bukan, kemampuan tersebut tidak kuperoleh melalui kuliah Bahasa Indonesia (nilai mata kuliah BI-ku rendah malahan). Kemampuan ini kuperoleh berkat pengalamanku selama menulis novel, blog, artikel, dan menyunting naskah-naskah - baik milikku sendiri maupun orang lain - selama bertahun-tahun.
Dari situlah, aku benar-benar menyadari bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Aku bertekad untuk terus menulis, demi mempertajam penguasaan EYD-ku dan menambah softskill-ku di bidang linguistik.
Sebagaimana seorang dosen di kampus pernah berkata, “Kemampuan menulis itu sangat penting bagi seorang ilmuwan. Buat apa meneliti bagus-bagus tapi tidak bisa menuliskannya untuk bisa dipahami masyarakat umum?”
Dan seterusnya.
Jadi, yuk terus menulis! Dan yuk rajin datang ke rapat! ^_^
WE DEFENDED THE STONE,
WE FOUND THE CHAMBER,
WE FREED THE PRISONER,
WE WERE CHOSEN BY THE GOBLET,
WE FOUGHT ALONGSIDE THE ORDER,
WE LEARNED FROM THE PRINCE AND
WE MASTERED THE HALLOWS.
We are the Harry Potter generation.
quote credit x
my childhood!

