7th Apr 2014

Owl City - Beautiful Times (feat. Lindsey Stirling)

Dear, dear Owl City’s newest single : Beautiful Times.

(Source: david-lawson)

24th Mar 2014
#Forestry A little #throwback: Jadi mahasiswa Fahutan itu prakteknya ke mana-mana, menyusuri gunung, lembah, dan hutan belantara. Melengkapi hal tersebut, kami melakukannya berramai-ramai. Asik. Masa’ sih nggak mau masuk Fahutan IPB? #promoIPB

#Forestry A little #throwback: Jadi mahasiswa Fahutan itu prakteknya ke mana-mana, menyusuri gunung, lembah, dan hutan belantara. Melengkapi hal tersebut, kami melakukannya berramai-ramai. Asik. Masa’ sih nggak mau masuk Fahutan IPB? #promoIPB

23rd Feb 2014
rumour:

IM LAUGHING SO HARD

This is amazing

rumour:

IM LAUGHING SO HARD

This is amazing

9th Feb 2014

tympanista:

*comes to meet you at Starbucks 15 minutes late with Starbucks from another location*

I’m physically in pain

(Source: tympanista)

8th Jan 2014

Peduli Pada Yang Dekat

Berbincang dengan seorang dosen di kampus, saya menjadi paham bahwa sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang sangat peduli. Namun, seringkali, kepedulian mereka lebih diarahkan kepada hal-hal yang dekat dengan mereka saja. Hal-hal yang menurut para mahasiswa ‘aktivis’ mungkin sepele - seperti makan, minum, ngerokok, ngopi - namun sesungguhnya sangat dekat dengan masyarakat umum.

Jadi, apakah masyarakat kita bisa dibilang egois? Apatis?

Tidak juga. Karena jauh di dalam lubuk diri kita, tertanam sebuah insting purba. Insting yang sama yang mendorong kita untuk bertahan hidup saat para binatang masih memburu kita.

Insting yang berteriak, “Selamatkan dirimu!” saat macan gigi pedang muncul di tengah perkampungan dan mencabik-cabik anggota suku.

Sebagai makhluk hidup, insting tersebut sudah tertanam dalam DNA kita. Kehadirannya tak bisa disalahkan.

Tapi, mari kembali ke politik. Jika dihubungkan dengan hal-hal di atas, maka wajar saja kalau banyak orang yang tidak peduli terhadap politik. Bagaimana tidak? Dunia politik terasa bagai sebuah tempat yang jauh. Abstrak, nggak jelas. Nggak bersentuhan langsung dengan kehidupan kita sehari-hari.

Atau, kalau mau mengutip kata-kata seorang petani yang dulu pernah saya temui:

"Nggak ada presiden juga nggak apa-apa. Selama saya punya cangkul ama kebun, bisa lah saya dan keluarga makan."

Makanya, ada sebutan “Urus diri sendiri aja belum bisa, masa’ udah urus orang lain?”

Tapi, sekarang ini jaman sedang berubah. Jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan banyak lagi membuat jarak antara manusia semakin menyempit. Termasuk jarak antara rakyat dengan pemimpinnya.

Hal ini dibuktikan oleh Barrack Obama pada pemilu presiden pertama yang ia ikuti. Saat itu, ia melakukan satu hal menarik yang masih sangat jarang dilakukan politisi manapun: ia membuat akun Facebook.

Melalui akun itu, ia memperkenalkan diri, memposting foto-foto diri, keluarga, dan sesekali menyelipkan kampanye. Nggak besar-besaran, tapi cukup. Pada masa-masa itu, FB masih dilingkupi oleh anak-anak muda bule. Para mahasiswa, pelajar, dari negeri Paman Sam mendapati calon presiden yang berada di jejaring yang sama dengan mereka, bertingkah seperti mereka, dan dekat dengan mereka.

Wajar ‘kan, kalau mereka memilihnya?

Fenomena ini baru belakangan ini mencapai ke Indonesia. Prinsipnya sama dengan yang telah banyak diterapkan di negara-negara barat: menutup jarak antara pemerintah dengan rakyatnya.

Tapi, caranya beda. Masyarakat Indonesia, pemilih aktifnya, kebanyakan adalah kelas menengah ke bawah. Nggak semuanya punya akses internet. Jadi, strategi social media Obama nggak akan bisa begitu diterapkan di sini.

Hal tersebut disiasati dengan menutup jarak secara langsung. Tahu yang namanya blusukan?Strategi menghampiri rakyat secara langsung ternyata membuat masyarakat semakin merasa dekat dengan pemimpin kita yang satu itu. Rakyat merasa peduli. Rakyat merasa memiliki.

Saya pikir hal tersebut harus disadari oleh banyak orang, termasuk para mahasiswa. Jika ingin membuat masyarakat lebih tertarik pada politik, maka buatlah politik terasa dekat dengan masyarakat. Terutama di negara kita, dimana nggak semua orang bisa terhubung dengan internet, lho.

Jadi, daripada ngeluh soal ‘apatis’-nya orang-orang terhadap sesuatu, mending cari cara supaya sesuatu tersebut bisa kita buat lebih dekat ke masyarakat banyak!

8th Jan 2014
prajanaparamita:

Salah satu materi perkuliahan Pelestarian Lanskap Sejarah Budaya (ARL 311) dan ternyata nemu slide yang bikin bangga sama Kabupaten yang satu ini. 
Pas ditanya dosen : “Ada yang dari Rembang?”
Saya : “Iya buk”
Dosen : “Wah kota Kartini ya. Biarpun kabupaten kecil, tapi sudah masuk kota pusaka Indonesia”
Saya : *tersipu malu
Nah, Rembangers pada tau gak kalau kota-ne udah masuk list 26 kota dari Indonesia Heritage City. Saya juga baru tahu -,-
Proud of you 

Wah, ada Cilacap juga! :D

prajanaparamita:

Salah satu materi perkuliahan Pelestarian Lanskap Sejarah Budaya (ARL 311) dan ternyata nemu slide yang bikin bangga sama Kabupaten yang satu ini. 

Pas ditanya dosen : “Ada yang dari Rembang?”

Saya : “Iya buk”

Dosen : “Wah kota Kartini ya. Biarpun kabupaten kecil, tapi sudah masuk kota pusaka Indonesia”

Saya : *tersipu malu

Nah, Rembangers pada tau gak kalau kota-ne udah masuk list 26 kota dari Indonesia Heritage City. Saya juga baru tahu -,-

Proud of you 

Wah, ada Cilacap juga! :D

2nd Dec 2013

Teens and Dystopias

writeworld:

by Scott Westerfeld for BookForum’s Dystopia issue, summer 2010

Literary dystopias flourish at the extremes of social control: the tyranny of too much government, the chaos of too little. Every 1984 or Fahrenheit 451 is balanced by a Mad Max or A Clockwork Orange. Or to put it simply,…

Artikel yang sangat bagus mengenai remaja dan distopia. Patut dibaca para calon penulis dan calon-calon orang dewasa secara menyeluruh.